Setiap hal akan dimintai pertanggungjawaban. Dan pastikan setiap tulisan yang kau bagikan mampu memberi manfaat, tidak menjadi pemberat amal burukmu di akhirat kelak.
Hal penting saat orang tua bersama anak
Friday, 9 May 2014
Friday, 25 April 2014
Banjari Amanatul Ummah, Suami
Entah mulai dari mana aku jatuh cinta dengan Hadroh, rebana, atau yang orang daerah Jawa Timur sebut dengan banjari ini. Mungkin semenjak jadi vokalis "ala kadarnya" dulu di sebuah kelompok rebana kecil di desa. Atau mungkin karena hadroh di pondok yang begitu syahdu kurasa di kalbu. Begitulah aku memandang banjari sebagai musik favoritku nomor satu sebelum jenis musik pop. Termasuk mulai tergila-gila dengan vokalis banjari, tanpa pandang gender.
Dan di bawah ini, adalah beberapa dokumentasi yang berhasil penulis curi dari sebuah group jejaring facebook yang menyertakan mas Wachid Abrori (suami penulis) sebagai vokalis di sebuah kelompok banjari Jawa Timur.
Percaya atau tidak, aku jatuh cinta padanya, LAGI DAN LAGI.
Dan di bawah ini, adalah beberapa dokumentasi yang berhasil penulis curi dari sebuah group jejaring facebook yang menyertakan mas Wachid Abrori (suami penulis) sebagai vokalis di sebuah kelompok banjari Jawa Timur.
Percaya atau tidak, aku jatuh cinta padanya, LAGI DAN LAGI.
Komplek Q *memomemo
Masa-masa perjuangan di penjara suci, PonPes Tahfidz Al Munawwir Komplek Q Krapyak, Yogyakarta.
Silahkan klik,
-Festival Hadroh DIY, Tsamrotul Muna
http://www.youtube.com/watch?v=s-vxRufz2oU
-Cerita Romadhon Komplek Q
http://www.youtube.com/watch?v=1bU5s3yhM3E
Silahkan klik,
-Festival Hadroh DIY, Tsamrotul Muna
http://www.youtube.com/watch?v=s-vxRufz2oU
-Cerita Romadhon Komplek Q
http://www.youtube.com/watch?v=1bU5s3yhM3E
Wednesday, 23 April 2014
Kenangan Penting tentang Cinta
Suatu hari, mungkin kau akan lupa bagaimana rasanya pertama kali kau jatuh cinta pada suamimu sendiri. Suatu hari, mungkin kau akan lupa bagaimana caranya menyatakan sayangmu padanya. Dan karena itulah, aku ingin mengabadikan perasaan terindah ini untuk suatu hari kubaca bersama suamiku dimasa tuaku nanti. Agar aku tidak pernah lupa bagaimana indahnya mencintainya. Sepanjang hidupku.
Aku mengenalnya lewat sosialisasi pembelajaran kampus baru kami, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kala itu, aku hanya bisa melihatnya dari ujung kelas. Mencari tahu tentang namanya, nomor telfonnya. Kemudian, sesekali mata kami bertemu, membuat sepersekian detik hidupku serasa berhenti. Semuanya membias. Hanya ada aku, dan dia serta degub jantungku yang terdengar begitu jelas. Aku jatuh cinta, pada pandangan pertama.
Aih..apakah sama dengan yang di sana?
Entahlah.
Hari-hari berikutnya perbincanganku dengan beberapa teman baruku hanya seputar dia, lelaki yang ku lirik manisnya, Muhammad Wachid Abrori. Atau yang akrab kami sebut MW.
Beberapa hari setelah pesan singkat ku layangkan sebagai permintaan pertemananku, dia mengajakku bertemu untuk mengerjakan tugas akhir sospem bersama di sebuah warnet dekat kampus. Kala itu aku sedang ijin pondok beberapa hari karena kegiatan kampus yang begitu padat. Dengan penanmpilan yang "berbeda" ku beranikan diri untuk bersua dengannya. Jaket semi jeans, jilbab paris dan sarung khas madura sebagai identitasku, santri pondok. Jelas, pertemuan ini harus dengan etika seorang santriwati yang sedang bertemu santri laki-laki. menundukkan kepala, berbincang seperlunya.
Dan begitulah, pertemuan pertama kami. ada raut malu bercampur bahagia di sudut matanya.
Lima hari terhitung sejak hari pertama sospem, kami sudah banyak saling tahu. Aku banyak bertanya tentang latar belakang sekolahnya yang ternyata dulu dia adalah salah satu siswa Gontor, tentang keluarganya juga tentang bagaimana ia sampai di sini, Jurusan baru kami, Pendidikan Bahasa Arab. Begitu juga dengan dia yang begitu bersahabat menerimaku dan tidak enggan untuk saling bertukar cerita.
Masachid, begitu aku memanggilnya.
Aku mengenalnya lewat sosialisasi pembelajaran kampus baru kami, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kala itu, aku hanya bisa melihatnya dari ujung kelas. Mencari tahu tentang namanya, nomor telfonnya. Kemudian, sesekali mata kami bertemu, membuat sepersekian detik hidupku serasa berhenti. Semuanya membias. Hanya ada aku, dan dia serta degub jantungku yang terdengar begitu jelas. Aku jatuh cinta, pada pandangan pertama.
Aih..apakah sama dengan yang di sana?
Entahlah.
Hari-hari berikutnya perbincanganku dengan beberapa teman baruku hanya seputar dia, lelaki yang ku lirik manisnya, Muhammad Wachid Abrori. Atau yang akrab kami sebut MW.
Beberapa hari setelah pesan singkat ku layangkan sebagai permintaan pertemananku, dia mengajakku bertemu untuk mengerjakan tugas akhir sospem bersama di sebuah warnet dekat kampus. Kala itu aku sedang ijin pondok beberapa hari karena kegiatan kampus yang begitu padat. Dengan penanmpilan yang "berbeda" ku beranikan diri untuk bersua dengannya. Jaket semi jeans, jilbab paris dan sarung khas madura sebagai identitasku, santri pondok. Jelas, pertemuan ini harus dengan etika seorang santriwati yang sedang bertemu santri laki-laki. menundukkan kepala, berbincang seperlunya.
Dan begitulah, pertemuan pertama kami. ada raut malu bercampur bahagia di sudut matanya.
Lima hari terhitung sejak hari pertama sospem, kami sudah banyak saling tahu. Aku banyak bertanya tentang latar belakang sekolahnya yang ternyata dulu dia adalah salah satu siswa Gontor, tentang keluarganya juga tentang bagaimana ia sampai di sini, Jurusan baru kami, Pendidikan Bahasa Arab. Begitu juga dengan dia yang begitu bersahabat menerimaku dan tidak enggan untuk saling bertukar cerita.
Masachid, begitu aku memanggilnya.
Wednesday, 16 April 2014
Borobudur "Jalan-jalan men!!!"
Ehm..pertama-tama, penulis pengen pamer beberapa koleksi kenangan yang bisa penulis bingkai dari vacation penulis ke sebuah candi terbesar di dunia, Borobudur temple.
Jadi gini ceritanya,
Kedua temen penulis, sebut saja eyang (nama aslinya panjang banget sehingga penulis kesulitan dalam menuliskannya :D "Umi Khulsum Nur Qomariyah Magister Biologi Al-Hafidzoh wal hamilah wal jamilah") dan satunya lagi mbak leha (siti julayha), lagi pengen ngawalin liburan lebaran dengan menginap di gubug penulis, Magelang.
Sekalian tuh kita mampir ke candi Borobudur lewat belakang (*baca=masuk gratis).
Maaf g bisa "ngopeni" kalian di rumah dengan baik. Terimakasih sudah mau berkunjung. Jangan kapok yaaa...
:*
Ayook..siapa pengen ke candi bareng penulis lewat belakang?
Daftarkan segera!!!kesempatan terbatas.
:D
Silahkan tinggalkan komentar di bawah ini yaa..
Jadi gini ceritanya,
Kedua temen penulis, sebut saja eyang (nama aslinya panjang banget sehingga penulis kesulitan dalam menuliskannya :D "Umi Khulsum Nur Qomariyah Magister Biologi Al-Hafidzoh wal hamilah wal jamilah") dan satunya lagi mbak leha (siti julayha), lagi pengen ngawalin liburan lebaran dengan menginap di gubug penulis, Magelang.
Sekalian tuh kita mampir ke candi Borobudur lewat belakang (*baca=masuk gratis).
Maaf g bisa "ngopeni" kalian di rumah dengan baik. Terimakasih sudah mau berkunjung. Jangan kapok yaaa...
:*
Ayook..siapa pengen ke candi bareng penulis lewat belakang?
Daftarkan segera!!!kesempatan terbatas.
:D
Silahkan tinggalkan komentar di bawah ini yaa..
Tuesday, 15 April 2014
Proposal Skripsi
Tidak sedikit orang yang bertanya tentang kuliahku dengan berbagai macam pertanyaan seperti,
"Wisuda kapan?"
"Udah skripsi?"
atau "Udah ngerjain proposal?"
"Skripsinya sampai mana?"
dan pertanyaan-pertanyaan membosankan lainnya yang tidak lain hanya mempull down semangatku.
Kenapa?
Kenapa tidak malah menyulut api semangatku?
Entahlah. Hanya saja, satu hal yang perlu kamu tahu adalah, start awal proses pembuatan proposalku bahkan sudah jauh sebelum semuanya sibuk mencari judul.
Terlalu berani mungkin. Dan terlalu pengecut pastinya. Sudah aku ajukan judul beserta proposalku di awal semester 6. Sebelum aku menikah, tepatnya. Berharap, saat menikah aku sudah lebih tenang karna judul dan proposalku diterima oleh pembimbing akademikku, Bapak Abdul Munip.
Tapi apa mau dikata. Tidak ada seorangpun yang bisa menggugat keputusan seorang dosen, begitu katanya. Siang itu, pukul 11.00 aku sudah duduk manis di ruang Dosen Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga dengan sederet kalimat yang sudah kususun rapi beserta beberapa kalimat penguat agar judul dan proposalku diterima. Mencoba datang lebih awal karena tidak ingin memberi kesan tidak baik untuk pertemuan pertama bersejarah ini. Beberapa mahasiswa juga terlihat antri menunggu dosen. Ada janji juga, mungkin.
15 menit berlalu, akhirnya ku layangkan sebuah pesan singkat untuk beliau. Memastikan beliau tidak lupa untuk bertemu denganku siang ini.
Tidak lama kemudian beliau datang. Dengan satu kalimat tanya sederhana, beliau sukses membuat nyaliku ciut seperti balon yang di lepas ikatannya.
"Coba mana judulnya?" (membaca)
"Kamu semester berapa?"
"Semester 6 Bapak.." (keringat dingin)
"Kamu masih harus banyak baca ini. Judul ini sudah banyak..Rajin-rajin ke perpus biar kamu g kuper.."
GLEK!!!
Mendadak seluruh tubuhku seperti kehilangan kendali. Tulang-tulangku seperti tak bersendi. Nadiku malu-malu berdenyut. Seperti ingin langsung menenggelamkan diri ke dasar lautan yang bahkan tidak ada ikan di sana. aku, m a l u.
Hanya sebesar itu nyaliku. Sekarang, setiap kali berpikir tentang proposal, terlebih skripsi, aku seperti ingin muntah. Sepertinya ini yang dinamakan frustasi. Dan frustasi hanya untuk orang-orang bermental kerupuk. Dan itu, aku.
Tuhan..bukankah aku masih bersama belas kasih-Mu?
Aku ingin mengajukan proposalku hanya pada-Mu saja ya?
Bahkan Kau tidak pernah sekalipun menolak proposalku bukan?
Aku harus bagaimana, Tuhan?
"Wisuda kapan?"
"Udah skripsi?"
atau "Udah ngerjain proposal?"
"Skripsinya sampai mana?"
dan pertanyaan-pertanyaan membosankan lainnya yang tidak lain hanya mempull down semangatku.
Kenapa?
Kenapa tidak malah menyulut api semangatku?
Entahlah. Hanya saja, satu hal yang perlu kamu tahu adalah, start awal proses pembuatan proposalku bahkan sudah jauh sebelum semuanya sibuk mencari judul.
Terlalu berani mungkin. Dan terlalu pengecut pastinya. Sudah aku ajukan judul beserta proposalku di awal semester 6. Sebelum aku menikah, tepatnya. Berharap, saat menikah aku sudah lebih tenang karna judul dan proposalku diterima oleh pembimbing akademikku, Bapak Abdul Munip.
Tapi apa mau dikata. Tidak ada seorangpun yang bisa menggugat keputusan seorang dosen, begitu katanya. Siang itu, pukul 11.00 aku sudah duduk manis di ruang Dosen Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga dengan sederet kalimat yang sudah kususun rapi beserta beberapa kalimat penguat agar judul dan proposalku diterima. Mencoba datang lebih awal karena tidak ingin memberi kesan tidak baik untuk pertemuan pertama bersejarah ini. Beberapa mahasiswa juga terlihat antri menunggu dosen. Ada janji juga, mungkin.
15 menit berlalu, akhirnya ku layangkan sebuah pesan singkat untuk beliau. Memastikan beliau tidak lupa untuk bertemu denganku siang ini.
Tidak lama kemudian beliau datang. Dengan satu kalimat tanya sederhana, beliau sukses membuat nyaliku ciut seperti balon yang di lepas ikatannya.
"Coba mana judulnya?" (membaca)
"Kamu semester berapa?"
"Semester 6 Bapak.." (keringat dingin)
"Kamu masih harus banyak baca ini. Judul ini sudah banyak..Rajin-rajin ke perpus biar kamu g kuper.."
GLEK!!!
Mendadak seluruh tubuhku seperti kehilangan kendali. Tulang-tulangku seperti tak bersendi. Nadiku malu-malu berdenyut. Seperti ingin langsung menenggelamkan diri ke dasar lautan yang bahkan tidak ada ikan di sana. aku, m a l u.
Hanya sebesar itu nyaliku. Sekarang, setiap kali berpikir tentang proposal, terlebih skripsi, aku seperti ingin muntah. Sepertinya ini yang dinamakan frustasi. Dan frustasi hanya untuk orang-orang bermental kerupuk. Dan itu, aku.
Tuhan..bukankah aku masih bersama belas kasih-Mu?
Aku ingin mengajukan proposalku hanya pada-Mu saja ya?
Bahkan Kau tidak pernah sekalipun menolak proposalku bukan?
Aku harus bagaimana, Tuhan?
Saturday, 12 April 2014
PPL
Ngajar yang bener bener harus nyiapin mental ya, PPL. Dari rencana pembelajaran yang harus sudah dipersiapkan sendiri jauh dari sebelum hari H, sampe ritual komat kamit yang harus dilaksanakan demi tercapainya tujuan pembelajaran, alias belajar ngajar otodidak.
belum lagi praktik ngajar di kelas yang jujur adalah hal paling menakutkan buat gue, mahasiswi yang sekalipun g pernah dapetin pelajaran apapun tentang bahasa arab di sekolah dulu.
Oh God.Jadi?Gue?Gimana?
Okey. lets make it enjoy.
#ngehibur diri
Usaha pertama yang harus gue lakuin adalah wawancara temen-temen terdekat gue yang sekiranya bisa nuntun gue ngajar, ngajar B-A-H-A-S-A-A-R-A-B. keren kan???!!!
belum lagi praktik ngajar di kelas yang jujur adalah hal paling menakutkan buat gue, mahasiswi yang sekalipun g pernah dapetin pelajaran apapun tentang bahasa arab di sekolah dulu.
Oh God.Jadi?Gue?Gimana?
Okey. lets make it enjoy.
#ngehibur diri
Usaha pertama yang harus gue lakuin adalah wawancara temen-temen terdekat gue yang sekiranya bisa nuntun gue ngajar, ngajar B-A-H-A-S-A-A-R-A-B. keren kan???!!!
Saturday, 5 April 2014
Taman Lampion
Dan malam ini, satu dari seratus mimpiku akan ku coret, pertanda bahwa aku telah mewujudkan mimpi itu, bersamamu. goes to Taman Lampion, Yoyakarta.
Dengan iringin lagu kenangan kita, Yogyakarta.
ALL ABOUT YOGYAKARTA IS ALL ABOUT US.
Di bawah ini, beberapa foto selfy penulis di objek wisata Taman Lampion, ato yang akrab dikenal dengan sebutan Taman Pelangi,
Objek wisata ini mirip banget dengan salah satu objek wisata di Malaysia, bedanya, desain di sini masih sederhana dan belum cukup terkenal di luar Jogjakarta.
Yuk kita intip..
Dengan iringin lagu kenangan kita, Yogyakarta.
ALL ABOUT YOGYAKARTA IS ALL ABOUT US.
Di bawah ini, beberapa foto selfy penulis di objek wisata Taman Lampion, ato yang akrab dikenal dengan sebutan Taman Pelangi,
Objek wisata ini mirip banget dengan salah satu objek wisata di Malaysia, bedanya, desain di sini masih sederhana dan belum cukup terkenal di luar Jogjakarta.
Yuk kita intip..
Wedding Ceremony
Beberapa foto nikahan penulis yang g sempet penulis upload satu persatu via jejaring sosial facebook.
Untuk bulek dan adek yang udah dandan cantik dan udah sibuk jahit gamis seragam kesana sini tapi g sempet foto...thanks a lot. Maaf dest merepotkan kalian..
And special for everyone, terimakasih telah hadir di syukuran kami. jazakillah..
Untuk bulek dan adek yang udah dandan cantik dan udah sibuk jahit gamis seragam kesana sini tapi g sempet foto...thanks a lot. Maaf dest merepotkan kalian..
And special for everyone, terimakasih telah hadir di syukuran kami. jazakillah..
Saturday, 29 March 2014
My Wedding Ceremony
Beberapa dari ribuan foto jepretan temen temen yang baru bisa gw upload karna sebagian yang lain belum bisa gw edit.hahaha.
Perasaan yang belum pernah gw punya sebelumnya, ada rasa takut, cemas, berdebar-debar, dan yang tidak kalah penting adalah, perasaan bahagia.
Thanks for all.jazakillah smuanya...
:*
Perasaan yang belum pernah gw punya sebelumnya, ada rasa takut, cemas, berdebar-debar, dan yang tidak kalah penting adalah, perasaan bahagia.
Thanks for all.jazakillah smuanya...
:*
Monday, 20 January 2014
Student Exchange
Wednesday, 11 December 2013
While We're in KL
Mimpi...
Saat kamu bangun dari tidur dan tidak serta merta melewatkan sejuta harapan yang tadi telah kamu genggam erat, itulah mimpi.
Saat kamu berhasil membuat layang layangmu terbang tinggi setelah kamu jauh berlari-lari, memohon agar angin bermurah hati menerima layangmu sebagai temannya, itulah mimpi.
Mimpi itu...adalah aku.
aku, kau dan apa yang Tuhan beri untuk kita, agar kita pandai bertahmid.
:)
Berikut, adalah sekapur sirih, pengantar perjalanan panjang penulis bersama mimpinya, min haitsu laa yahtasib..
Prosesi pendaftaran seleksi pemilihan peserta Student Exchange yang terhitung berjarak detik dengan tes dan pengumumannya, membuatku sedikit “innocent” atas kenyataan bahwa aku diterima menjadi salah satu mahasiswi yang terpilih dan berada di list number one di papan pengumuman kampus.
Oh God, mimpi apa aku semalam???entahlah…tidak ada yang peduli mengingat ingat bahkan sekedar mencoba mengingat mimpi itu. Yang jelas, detik ini juga, aku harus memutar otak, berpikir keras untuk mendapatkan dana yang tidak sedikit untuk sisipan dompetku di negeri Jiran nanti.
Pernah suatu kali aku berambisi untuk dapat mengenyam pendidikan di Ausy (Australia). Setidaknya di salah satu Universitas ternama, Quesland. Ya..sampai sekarang pun, angan itu masih menggantung kuat di sini, di hati. Bukti? Foto sampul akun facebook yang dari zaman alif hingga sekarang masih terpampang elegan di sana. Dia adalah satu satunya saksi yang akan setia menemani kebersamaan mimpi itu. Lagi lagi di sini, dalam hati.
15 peserta akhirnya deal terpilih sebagai peserta Student Exchange yang akan di tempatkan di sebuah Universitas terbaik di Malaysia, University of Malaya. Tepatnya ahad, 24 November nanti, rencananya kami akan diberangkatkan dari bandara Adi Sucipto Yogyakarta dengan penerbangan Air Asia pukul 06.00pm hingga 2 minggu kedepan.
Hari-hari mulai berjalan lamban, seolah tidak ingin meninggalkan tanah air. Tidak ingin membuat orang-orang terkasih jauh. Tidak ingin mengambil resiko apapun atas perjalanan jauh nanti. Tuhan...yakinkan niatku.
Aku, mendadak menjadi orang paling sibuk di dunia ini. pengurusan pasport yang membutuhkan KK (Kartu Keluarga) dan akta kelahiran asli, bolak-balik kantor imigrasi yang tidak bisa dikatakan dekat dari lokasi kampus, penukaran mata uang rupiah ke ringgit dan seabreg keperluan yang harus dipenuhi sebelum hari H.
Maaf...karena ini aku mengabaikan kalian, orang orang yang sangat menghargai bahagiaku.
Ahad, 24 November 2013, 01.00pm
Seluruh peserta wajib kumpul di lobi fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga, kampus Putih tercinta.
Dengan ransel exsport di punggung, tas samping coklat, dan sebuah koper berukuran sedang, aku tergopoh-gopoh mendatangi kerumunan mereka yang sudah terlebih dahulu datang. Bukan, bukan mutaakhiroh lagi...
:D
Kami menyempatkan diri untuk mengambil beberapa foto bersama di samping fakultas sebelum akhirnya berangkat dari ke bandara Adi Sucipto dengan mobil pribadi milik bapak ibu dosen yang bertanggung jawab atas program Studen Exchange ini.
Sekitar pukul 02.00pm, kami sampai bandara. Udara di sini berbeda dengan udara Jogjakarta yang ku kenal. Bising. Gumpalan asap di mana-mana. Semuanya sibuk dengan hand bag koper masing-masing. Dan aku? sibuk mengutak-atik ponsel mini pinjaman Yusuf, salah satu personil kami. Kau tau kenapa?
Barang sakralku tertinggal di asrama, sekitar 30 menit dari sekarang aku berdiri.Oh God, kenapa handphone ku bisa tertinggal???
Dan sekarang..aku hanya perlu menunggu seseorang datang membawakan handphone itu untukku, terimakasih sayang..
Aku tersenyum lega setelah melihat senyum manis darinya dari kejauhan. kutinggalkan sementara hiruk pikuk pengurusan koper dkk itu..dan ku hampiri ia yang tak bisa menyusulku kedalam sini.
Ya..handphone yang ia bawa ku akui memang penting. tapi tidak lebih penting dari keberadaannya di sampingku saat ini.
Mungkin aku hanya akan pergi 14 hari saja, atau sederhananya 2 pekan saja. Mungkin aku akan bisa bertemu dengannya lagi di sini, di Indonesia. Atau mungkin, tidak sama sekali.
Perjalanan jauh berjarak mil yang harus kami lalui dengan pesawat. Aih..kau harus tahu betapa gugupnya perasaan kami. Atau mungkin hanya aku yang grogi seperti ini. Yang jelas, aku tidak ingin membuatnya sedih saat aku pergi. Aku ingin membawa senyumnya sampai negeri Jiran nanti.
Ku tanggalkan gelisahku di depannya. Aku ingin ia melepasku dengan tenang. Baru sekali itu aku melihat sorot berat di matanya. Dan ku putuskan masuk untuk segera berkumpul lagi dengan rombongan kami. Sayang, jangan menangis, aku akan kembali.
Semua orang benci dengan hal ini, p e r p i s a h a n.
Ku seka air mata yang masih menggenang di ujung mataku, aku baik-baik saja. Dan kami meneruskan prosedur keamanan di bagian imigrasi sebelum akhirnya menunggu untuk take off ke Malaysia.
06.15pm
Pintu bandara menuju pesawat Air Asia dibuka. Perjalanan untuk kali pertamaku dengan pesawatpun di mulai. Bagaimana rasanya?
Sempat aku kirimkan beberapa pesan untuk bapak ibuk dirumah, untuk memastikan do'a mereka berada di samping kiri dan kananku saat pesawat mulai take off.
Saat kamu bangun dari tidur dan tidak serta merta melewatkan sejuta harapan yang tadi telah kamu genggam erat, itulah mimpi.
Saat kamu berhasil membuat layang layangmu terbang tinggi setelah kamu jauh berlari-lari, memohon agar angin bermurah hati menerima layangmu sebagai temannya, itulah mimpi.
Mimpi itu...adalah aku.
aku, kau dan apa yang Tuhan beri untuk kita, agar kita pandai bertahmid.
:)
Berikut, adalah sekapur sirih, pengantar perjalanan panjang penulis bersama mimpinya, min haitsu laa yahtasib..
Prosesi pendaftaran seleksi pemilihan peserta Student Exchange yang terhitung berjarak detik dengan tes dan pengumumannya, membuatku sedikit “innocent” atas kenyataan bahwa aku diterima menjadi salah satu mahasiswi yang terpilih dan berada di list number one di papan pengumuman kampus.
Oh God, mimpi apa aku semalam???entahlah…tidak ada yang peduli mengingat ingat bahkan sekedar mencoba mengingat mimpi itu. Yang jelas, detik ini juga, aku harus memutar otak, berpikir keras untuk mendapatkan dana yang tidak sedikit untuk sisipan dompetku di negeri Jiran nanti.
Pernah suatu kali aku berambisi untuk dapat mengenyam pendidikan di Ausy (Australia). Setidaknya di salah satu Universitas ternama, Quesland. Ya..sampai sekarang pun, angan itu masih menggantung kuat di sini, di hati. Bukti? Foto sampul akun facebook yang dari zaman alif hingga sekarang masih terpampang elegan di sana. Dia adalah satu satunya saksi yang akan setia menemani kebersamaan mimpi itu. Lagi lagi di sini, dalam hati.
15 peserta akhirnya deal terpilih sebagai peserta Student Exchange yang akan di tempatkan di sebuah Universitas terbaik di Malaysia, University of Malaya. Tepatnya ahad, 24 November nanti, rencananya kami akan diberangkatkan dari bandara Adi Sucipto Yogyakarta dengan penerbangan Air Asia pukul 06.00pm hingga 2 minggu kedepan.
Hari-hari mulai berjalan lamban, seolah tidak ingin meninggalkan tanah air. Tidak ingin membuat orang-orang terkasih jauh. Tidak ingin mengambil resiko apapun atas perjalanan jauh nanti. Tuhan...yakinkan niatku.
Aku, mendadak menjadi orang paling sibuk di dunia ini. pengurusan pasport yang membutuhkan KK (Kartu Keluarga) dan akta kelahiran asli, bolak-balik kantor imigrasi yang tidak bisa dikatakan dekat dari lokasi kampus, penukaran mata uang rupiah ke ringgit dan seabreg keperluan yang harus dipenuhi sebelum hari H.
Maaf...karena ini aku mengabaikan kalian, orang orang yang sangat menghargai bahagiaku.
Ahad, 24 November 2013, 01.00pm
Seluruh peserta wajib kumpul di lobi fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga, kampus Putih tercinta.
Dengan ransel exsport di punggung, tas samping coklat, dan sebuah koper berukuran sedang, aku tergopoh-gopoh mendatangi kerumunan mereka yang sudah terlebih dahulu datang. Bukan, bukan mutaakhiroh lagi...
:D
Kami menyempatkan diri untuk mengambil beberapa foto bersama di samping fakultas sebelum akhirnya berangkat dari ke bandara Adi Sucipto dengan mobil pribadi milik bapak ibu dosen yang bertanggung jawab atas program Studen Exchange ini.
Sekitar pukul 02.00pm, kami sampai bandara. Udara di sini berbeda dengan udara Jogjakarta yang ku kenal. Bising. Gumpalan asap di mana-mana. Semuanya sibuk dengan hand bag koper masing-masing. Dan aku? sibuk mengutak-atik ponsel mini pinjaman Yusuf, salah satu personil kami. Kau tau kenapa?
Barang sakralku tertinggal di asrama, sekitar 30 menit dari sekarang aku berdiri.Oh God, kenapa handphone ku bisa tertinggal???
Dan sekarang..aku hanya perlu menunggu seseorang datang membawakan handphone itu untukku, terimakasih sayang..
Aku tersenyum lega setelah melihat senyum manis darinya dari kejauhan. kutinggalkan sementara hiruk pikuk pengurusan koper dkk itu..dan ku hampiri ia yang tak bisa menyusulku kedalam sini.
Ya..handphone yang ia bawa ku akui memang penting. tapi tidak lebih penting dari keberadaannya di sampingku saat ini.
Mungkin aku hanya akan pergi 14 hari saja, atau sederhananya 2 pekan saja. Mungkin aku akan bisa bertemu dengannya lagi di sini, di Indonesia. Atau mungkin, tidak sama sekali.
Perjalanan jauh berjarak mil yang harus kami lalui dengan pesawat. Aih..kau harus tahu betapa gugupnya perasaan kami. Atau mungkin hanya aku yang grogi seperti ini. Yang jelas, aku tidak ingin membuatnya sedih saat aku pergi. Aku ingin membawa senyumnya sampai negeri Jiran nanti.
Ku tanggalkan gelisahku di depannya. Aku ingin ia melepasku dengan tenang. Baru sekali itu aku melihat sorot berat di matanya. Dan ku putuskan masuk untuk segera berkumpul lagi dengan rombongan kami. Sayang, jangan menangis, aku akan kembali.
Semua orang benci dengan hal ini, p e r p i s a h a n.
Ku seka air mata yang masih menggenang di ujung mataku, aku baik-baik saja. Dan kami meneruskan prosedur keamanan di bagian imigrasi sebelum akhirnya menunggu untuk take off ke Malaysia.
06.15pm
Pintu bandara menuju pesawat Air Asia dibuka. Perjalanan untuk kali pertamaku dengan pesawatpun di mulai. Bagaimana rasanya?
Sempat aku kirimkan beberapa pesan untuk bapak ibuk dirumah, untuk memastikan do'a mereka berada di samping kiri dan kananku saat pesawat mulai take off.
Monday, 7 October 2013
Hunting Photo Part I
Hunting photo di daerah kampus UGM, Yogyakarta.
Dan ini dia beberapa hasil jepretan yang baru sempet gw share buat kalian.
Catatan, ini pake kamera DSRL loh...
Pamer ceritanya, pasalnya gw baru pertama kali jeprat-jepret pake DSRL.
XD
Ahad, 6 Oktober 2013.
Buat yang uda kasih kesempatan gw hunting pake DSRL'nya, abang, thanks a lot.
:)




Dan ini dia beberapa hasil jepretan yang baru sempet gw share buat kalian.
Catatan, ini pake kamera DSRL loh...
Pamer ceritanya, pasalnya gw baru pertama kali jeprat-jepret pake DSRL.
XD
Ahad, 6 Oktober 2013.
Buat yang uda kasih kesempatan gw hunting pake DSRL'nya, abang, thanks a lot.
:)
Subscribe to:
Posts (Atom)


























